LDII Harapkan Semua Pihak Atasi Masalah di Abad 21 Dengan Cara Abad 21

Jakarta, 30 Desember 2019

Menghadapi disrupsi akibat pesatnya perkembangan teknologi, pemerintah Indonesia berupaya mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Namun LDII menilai, upaya itu belum menemukan filosofinya.

Hal tersebut mengemuka saat LDII menghelat konferensi pers bertepatan berakhirnya tahun 2019, dan menyongsong 2020.

Konferensi pers itu membahas sumbangsih dan pemikiran strategis LDII untuk pembangunan dan kemajuan bangsa. Acara tersebut menghadirkan narasumber Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo dan Chriswanto Santoso. Acara dihadiri 20 wartawan dari media-media nasional.

Menurut Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo, pesatnya teknologi menyebabkan disrupsi, terlebih lagi penyebaran informasi. Mau tidak mau, SDM yang dimiliki Indonesia harus memiliki kemampuan dan keahlian yang sesua dengan perkembangan zaman. LDII mendorong perlunya peningkatan kualitas SDM berciri ke-Indonesiaan.

“Dulu saat Nabi Adam diturunkan Allah untuk menebus dosanya ke bumi, ia dilengkapi dengan ekosistem agar bisa hidup. Kita sebagai bangsa Indonesia ditempatkan dengan tiga ciri, yaitu negeri vulkanik, negeri tropis, dan negeri kelautan,” ujar Prasetyo di Kantor DPP LDII, Patal Senayan pada Senin (30/12) tadi.

Maka kualitas SDM yang harus dipersiapkan harus bisa mengurus tiga hal tersebut. Pertama SDM yang mampu menggali aset negara vulkanik. Indonesia memiliki bentang alam dengan 68 gunung berapi aktif, kaya akan sumber daya mineral.

Kedua, Indonesia disebut negara tropis sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Maka harus memiliki SDM yang mampu mengolah sumber daya hayati. Contohnya soal pengobatan, saat ini Indonesia impor 90 persen obat. Padahal, saat era Kerajaan Majapahit, pengobatan memanfaatkan tumbuhan herbal.

Ketiga adalah kelautan. Karena Indonesia negara maritim, SDM harus mampu mengelola sumber daya peseisir. Misal potensi perikanan, transportasi, minyak dan gas. SDM berkualitas dibutuhkan untuk bisa mengembangkan teknologi yang diperlukan oleh kondisi bangsa Indonesia.

“Abad 21 menuntut setiap bangsa mampu berinovasi untuk menyelesaikan persoalannya masing-masing di abad 21 dengan ciri masing-masing persoalannya. Maka persoalan Indonesia abad 21 harus diselesaikan dengan cara-cara abad 21,” ujarnya.

Prasetyo Sunaryo mencontohkan, dunia pertanian misalnya. Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pangan, maka harus dikembangkan pertanian abad 21. Transportasi abad 21 yang akan menuju mobil listrik, maka SDM berkemampuan mengelola teknologi mobil listrik dengan segenap infrastruktur pendukungnya harus disiapkan.

 

LDII Meminta Pemerintah Waspadai Learning Poverty

Mengenai keterpurukan Indonesia di bidang ekonomi dan berbagi bidang lainnya, Prasetyo Sunaryo menukil laporan Bank Dunia, yang menyebut Indonesia darurat learning poverty alias miskin belajar.

Meski Indonesia memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada posisi 111 dari 189 negara dengan kualitas hidup manusia yang membaik, namun keadaan ini masih mengkhawatirkan. Menurut Prasetyo Sunaryo, sepertiga anak-anak Indonesia mengalami learning poverty.

“Generasi muda kita sedang dalam posisi learning poverty alias miskin belajar. Artinya, terdapat entah kesulitan belajar, malas belajar, ini harus diantisipasi untuk meningkatkan kualitas SDM kedepan,” ujarnya.

Solusinya, menurut Prasetyo Sunaryo, semua pihak harus memberantas malas belajar. Kedua, kemampuan membaca harus diperbaiki, dimana dalam tes Pissa membaca harus semakin ditingkatkan. Dan pendidikan harus diarahkan pada terbangunnya budaya dan semangat belajar seumur hidup.

“Kepastian perubahan menuntut penyesuaian. Kemampuan penyesuaian, menuntut kemampuan mempelajari perubahan dan bagaimana menyesuaikan dengan perubahan. Untuk itu perlu dikembangkan metode agar sejak dini terbangun semangat belajar. Setelah terbangun semangat belajar, harus dibangun kemampuan membaca,” ujarnya.

Setelah kemampuan membaca meningkat, maka Prasetyo menekankan peningkatkan kemampuan Iptek dan kemampuan wirausaha atau wiraupaya. Ada 260 juta warga Indonesia, setidaknya 26 jutanya harus berwirausaha dan harus berbasis teknologi.

“Karena kita tidak punya kriteria, semua berpola menjadi apa saja. Sistem politik kita seolah-olah siapa saja bisa menjadi apa saja. Padahal dunia tidak seperti itu. Tuntutan globalisasi berbasis kewirasusahaan dan penguasaan Iptek,” ujarnya.

Menyiapkan pendidikan berkualitas merupakan tantangan seluruh komponen bangsa dan tanggung jawab bersama, agar terwujud SDM berkualitas sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia abad 21. LDII sendiri sudah berupaya untuk berkontribusi bagi bangsa.

Dalam bidang pendidikan, LDII telah mencanangkan program Tri Sukses yakni mewujudkan generasi penerus yang alim-fakih (memiliki pengetahuan dan pemahaman agama yang kuat), berakhlakul karimah, dan mandiri. Program ini dijalankan di semua pondok pesantren dan lembaga pendidikan LDII. Selain itu, LDII menanamkan kepada warganya pendidikan karakter 6 tabiat luhur yaitu jujur, amanah, mujhid-muzhid, rukun, kompak, dan kerja sama yang baik.(*/kim)

*Kontributor : KIM DPP LDII

Artikel Terkait

Leave a Comment