Peringatan Hari Santri Diwarnai LDII Jaksel Dengan Meningkatkan SDM Para Santrinya

LDIIJakselNews
Senin, 22 Oktober 2018-23:51 wib

Menginjak tahun ketiga sejak ditetapkannya tanggal 22 Oktober menjadi Hari Santri lewat Keputusan Presiden  no 22 tahun 2015 silam oleh Presiden Republik Indonesia Insinyur Haji Joko Widodo. Kehidupan para santri dan santriwati di Indonesia terasa makin berwarna, terutama karena dukungan pemerintah juga kian menguat dalam kehidupan santri ini.  Menurut kamus bahasa Indonesia, arti kata santri berarti orang yang menimba ilmu agama di pondok pesantren. Namun saat ini pengertian tersebut rupanya sudah berkembang lebih luas lagi,terlebih di era digital dimana masyarakat dapat belajar agama dimana saja kapan saja lewat pemanfaatan teknologi.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) sebagai salah satu organisasi masyarakat yang bergerak di bidang dakwah dan sosial juga menjadikan santri yang kelak diistilahkan sebagai mubaligh mubalighot, sebagai perwujudan dari keberhasilan para santri setelah usai menjalankan pendidikan di pondok pesantren. Mereka inilah yang nantinya sebagai ujung tombak dalam melaksanakan syiar agama di berbagai tempat di negeri ini. Selain itu eksistensi pondok pesantren yang dinaungi oleh LDII juga jelas menempatkan para santri sebagai prioritas utama dalam pelaksanaan pembelajaran agama Islam.

Mewarnai dan memaknai Hari Santri  di 22 Oktober 2018 ini di LDII Jakarta Selatan menurut Teguh Sugiono selaku Sekretaris DPD menuturkan bahwa di LDII  Jakarta Selatan sejak era 90-an silam telah berdiri Pondok Pesantren atau ponpes Nurul Aini. Ribuan santri telah berhasil lulus dari ponpes ini dan menjadi para mubaligh dan mubalighot ( mubalighin) yang mengamalkan ilmunya untuk kemashalatan umat. Rata- rata tiap tahun ponpes Nurul Aini  yang beralamat di kelurahan Cilandak timur , Pasar Minggu Jakarta Selatan ini meluluskan lebih dari 100 siswa santriwan dan santriwati.

“ Tahun ini tercatat  sebanyak 47 siswa santri yang ada di ponpes Nurul Aini, kami menerapkan  sistem boarding , dimana para siswa melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar (kbm) agar menjadi mubalighin yang baik dan berguna bagi masyarakat,” terangnya. Selain menggelar kegiatan kesantrian secara khusus di ponpes,  kegiatan kesantrian lainnya juga diterapkan oleh DPD LDII Jakarta Selatan di hampir semua PC dan PAC dibawahnya. Lebih tepatnya program pesantren khusus yang dilakukan dalam 2 program yaitu Program Pesantren Sekolah (PPS) dan Program Pesantren Mahasiswa (PPM). Kedua program ini secara konsep sama yaitu memberi pembekalan pembinaan dan pendidikan kesantrian bagi siswa sekolah dan siswa mahasiswa dengan materi dan waktu yang lebih disesuaikan dengan status para santrinya sebagai pelajar atau mahasiswa. Ini menjadi terobosan yang sangat potensial bagi peningkatan moral dan religi generasi muda,khususnya generasi Islam dewasa ini.

“Ini menjadi salah satu upaya  LDII dalam memberdayakan adik-adik pelajar dan mahasiswa untuk terus meningkatkan kefahaman agamanya serta tetap aktif dalam kegiatan pendidikan akademisnya,” tambah Teguh. Upaya upaya peningkatan sumber daya manusia para santri pun terus dikembangkan oleh para pengurus LDII, misalnya dengan memberikan pelatihan kemandirian bagi para siswa santrinya. Di pondok pesantren para siswa santri diajarkan hidup mandiri, bahkan untuk keperluan makan sehari-hari dikerjakan oleh para santri secara bergiliran. Pondok pesantren mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab serta menjunjung nilai-nilai kejujuran secara disiplin namun penuh kekeluargaan dan kasih sayang. Selain itu para siswa secara intens juga mendapat pelajaran tentang seri manajemen, dari tingkat dasar hingga mahir. (Ichwan s/kim)

Artikel Terkait

Leave a Comment